Tidak banyak perusahaan farmasi yang mampu berekspansi dan bisa
mencuil pangsa pasar di luar negeri. Nah, salah satu di antara yang
sedikit itu adalah PT Kalbe Farma Tbk yang sudah menapakkan bisnisnya di
10 negara. Kalbe menargetkan bisa memperkuat bisnis di Indonesia dan
ASEAN. Berikut hasil wawancara wartawan KONTAN Andri Indradie dengan Irawati Setiady,Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk
PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) adalah perusahaan publik produk kesehatan
terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Kapitalisasi pasar Kalbe mencapai US$
3,6 miliar
dan kini membawahi 20 anak perusahaan.
Kalbe fokus pada empat bisnis. Masing-masing fokus bisnis ada di
bawah divisi, yaitu divisi obat resep, divisi produk kesehatan, divisi
nutrisi, serta divisi distribusi & logistik. Selama ini keempat
divisi memberikan kontribusi keuntungan yang seimbang kepada Kalbe.
Secara total, empat divisi tersebut didukung lebih dari 15.000
karyawan, termasuk 4.000 tenaga pemasaran dan penjualan yang tersebar di
seluruh Indonesia. Untuk mendukung penjualan, Kalbe memiliki 65 cabang
di 47 kota besar yang distribusinya di bawah dua regional distribution center (RDC), yaitu di Jakarta dan Surabaya.
Di luar negeri, produk Kalbe sudah hadir di 10 negara, antara lain di
Nigeria, Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Sisanya, beberapa negara ASEAN,
seperti Singapura, Thailand, Filipina, dan Kamboja.
Perusahaan terbesar
Dengan hadir di beberapa negara itu, dalam jangka panjang (lima tahun
ke depan), kami ingin menjadikan Kalbe sebagai perusahaan terbaik di
Indonesia dan ASEAN. Visi kami menjadi the best Indonesian health care company.
Jadi, kami ingin Kalbe dikenal sebagai perusahaan yang memberikan
layanan kesehatan secara lengkap, baik dari sisi gaya hidup atau keadaan
konsumen sebelum sakit lewat produk-produk nutrisi, maupun rehabilitasi
dan layanan kesehatan saat sakit sampai sembuh.
Saya berharap Kalbe bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan
farmasi multinasional yang juga punya cabang di banyak negara. Tak hanya
leading di Indonesia, sebisa mungkin Kalbe juga disegani oleh
negara-negara di ASEAN sebagai perusahaan yang memberikan layanan
kesehatan.
Untuk mencapai harapan itu, saya bersama manajemen di Kalbe akan
fokus pada produktivitas, mengedepankan semangat inovasi, serta tentu
saja didukung pengelolaan arus kas yang baik. Pertama, produktivitas.
Kedua, inovasi produk dan merek. Ketiga, peningkatan kualitas sumber
daya manusia (SDM) dan pengelolaan arus kas yang baik.
Saya kira, tiga hal tersebut yang menjadi landasan proses bisnis
untuk mencapai visi ke depan. Strategi ini kami sebut dengan strategi
PIC (productivity–innovation–cash flow). Sederhananya, dengan
penyelarasan organisasi, operasional, sistem manajemen, serta SDM secara
intensif, kami berharap bisa menghasilkan peningkatan efisiensi
operasional melalui sinergi dan perbaikan proses kerja dan skala
produksi dalam Grup Kalbe.
Secara konkret, terjemahan PIC dalam garis besarnya terbagi dalam tiga strategi.
Pertama, meningkatkan efektivitas marketing dan penjualan melalui management branding. Caranya, melalui strategi pemasaran korporat yang terintegrasi.
Kedua, memperkuat portofolio bisnis melalui inovasi model
bisnis terbaru. Contohnya, di divisi obat resep, kami akan terus mencari
lisensi baru, mengembangkan produk onkologi, dan memperbesar produksi
obat generik.
Di produk kesehatan, kami akan berinovasi produk baru dengan
produk-produk herbal. Selain itu kami juga menambah beberapa kerja sama
penjualan produk alat kesehatan.
Contohnya, hari ini (Selasa, 27/3) kami meluncurkan produk insulin
pump untuk pasien diabetes melitus. Sedangkan di divisi nutrisi, kami
juga melakukan desain ulang (redesign) dan reposisi produk dan pengepakan.
Ketiga, dalam rangka pengembangan bisnis dan penjualan, kami
akan ekspansi cabang-cabang baru, memperkuat rantai distribusi dengan
membangun RDC baru di Medan, Palembang, serta Makassar.
Kami ingin masuk di kota-kota yang ada di pelosok. Apalagi ini negara
yang populasinya mencapai 240 juta. Kami memperluas cabang sehingga
masyarakat bisa mengakses produk-produk kami.
Di sisi likuiditas, kami konsisten menerapkan prinsip manajemen
keuangan yang hati-hati. Yang jelas, Kalbe punya jumlah kas internal
yang cukup untuk kebutuhan pengeluaran modal. Bila tidak mencukupi
secara internal, kami akan mencari sumber pembiayaan eksternal.
Melalui pelaksanaan strategi PIC tersebut, kami berharap Kalbe dapat
mencapai margin laba usaha sebesar 16% hingga 16,5% di tahun 2012.
Di sisi penjualan, kami juga optimistis penjualan Kalbe tahun ini
bisa tumbuh 18%–20% dibanding tahun lalu. Dari penjualan, saya berharap dividen pay out ratio bisa menjadi 60% dari laba bersih tahun 2011 atau naik 10% dari nilai sebelumnya.
Kalbe siap dengan SJSN
Seperti kita tahu, saat ini, industri farmasi di Indonesia sudah
terfragmentasi lebih dari 200 perusahaan. Pasar farmasi juga berkembang
pesat seiring dengan ketatnya kompetisi bisnis farmasi yang juga harus
dihadapi Kalbe.
Hingga akhir tahun 2011,Kalbe berhasil mempertahankan dominasi di
pangsa pasar farmasi dengan menguasai 13% pangsa pasar di Indonesia.
Kalbe sudah mampu menjangkau 70%–100% coverage untuk dokter umum, dokter spesialis, rumah sakit, apotek untuk pasar obat resep, serta pasar produk kesehatan dan nutrisi.
Di pasar nutrisi, Kalbe juga berhadapan dengan kompetisi yang tinggi
produsen multinasional. Di pasar ini, Kalbe ada di peringkat keempat
dengan pangsa pasar sebesar 9%.
Sembari menghadapi persaingan kompetisi di bisnis farmasi, kami juga
terus memantau perkembangan pasar. Tujuannya, supaya bisa
mengidentifikasi peluang untuk tumbuh dan pengembangan bisnis. Saat yang
sama, kami juga meningkatkan kompetensi dan memperbaiki proses internal
supaya rencana kerja berjalan sukses.
Salah satu peluang antara lain, rencana Pemerintah Indonesia
mengimplementasikan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) di tahun 2014.
Peluang lainnya adalah peningkatan anggaran pembelanjaan pemerintah di
bidang kesehatan.
Sejalan dengan rencana pemerintah, Kalbe sudah menyiapkan diri dengan
menyelesaikan pembangunan pabrik obat generik yang berkapasitas 87 juta
tablet per bulan. Kami berharap, produksi ini bisa memenuhi kebutuhan
masyarakat akan obat-obatan yang bernilai ekonomis.
Kami juga berinvestasi dan terus mengembangkan teknologi, dalam hal
ini ilmu pengetahuan. Sebab, bisnis farmasi juga harus berdiri di atas
ilmu pengetahuan. Research and development, terutama di bidang health care sangat penting untuk pengembangan produk-produk kami. Ilmu pengetahuan, kan, maju terus. Kami ingin selalu update.
Agar selalu update, kami bekerja sama dengan, baik
perusahaan di dalam negeri maupun perusahaan-perusahaan luar negeri. Ini
dilakukan hampir di semua divisi, tergantung tahap pengembangannya.
Disesuaikan dengan kategori bisnis unit. Sesuai dengan produknya.