Rabu, 04 April 2012

Kami Ingin Jadi Perusahaan Layanan Kesehatan Terbaik

 Tidak banyak perusahaan farmasi yang mampu berekspansi dan bisa mencuil pangsa pasar di luar negeri. Nah, salah satu di antara yang sedikit itu adalah PT Kalbe Farma Tbk yang sudah menapakkan bisnisnya di 10 negara. Kalbe menargetkan bisa memperkuat bisnis di Indonesia dan ASEAN. Berikut hasil wawancara wartawan KONTAN Andri Indradie dengan Irawati Setiady,Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) adalah perusahaan publik produk kesehatan terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Kapitalisasi pasar Kalbe mencapai US$ 3,6 miliar
dan kini membawahi 20 anak perusahaan.
Kalbe fokus pada empat bisnis. Masing-masing fokus bisnis ada di bawah divisi, yaitu divisi obat resep, divisi produk kesehatan, divisi nutrisi, serta divisi distribusi & logistik. Selama ini keempat divisi memberikan kontribusi keuntungan yang seimbang kepada Kalbe.
Secara total, empat divisi tersebut didukung lebih dari 15.000 karyawan, termasuk 4.000 tenaga pemasaran dan penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk mendukung penjualan, Kalbe memiliki 65 cabang di 47 kota besar yang distribusinya di bawah dua regional distribution center (RDC), yaitu di Jakarta dan Surabaya.
Di luar negeri, produk Kalbe sudah hadir di 10 negara, antara lain di Nigeria, Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Sisanya, beberapa negara ASEAN, seperti Singapura, Thailand, Filipina, dan Kamboja.
Perusahaan terbesar
Dengan hadir di beberapa negara itu, dalam jangka panjang (lima tahun ke depan), kami ingin menjadikan Kalbe sebagai perusahaan terbaik di Indonesia dan ASEAN. Visi kami menjadi the best Indonesian health care company.
Jadi, kami ingin Kalbe dikenal sebagai perusahaan yang memberikan layanan kesehatan secara lengkap, baik dari sisi gaya hidup atau keadaan konsumen sebelum sakit lewat produk-produk nutrisi, maupun rehabilitasi dan layanan kesehatan saat sakit sampai sembuh.
Saya berharap Kalbe bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan farmasi multinasional yang juga punya cabang di banyak negara. Tak hanya leading di Indonesia, sebisa mungkin Kalbe juga disegani oleh negara-negara di ASEAN sebagai perusahaan yang memberikan layanan kesehatan.
Untuk mencapai harapan itu, saya bersama manajemen di Kalbe akan fokus pada produktivitas, mengedepankan semangat inovasi, serta tentu saja didukung pengelolaan arus kas yang baik. Pertama, produktivitas. Kedua, inovasi produk dan merek. Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pengelolaan arus kas yang baik.
Saya kira, tiga hal tersebut yang menjadi landasan proses bisnis untuk mencapai visi ke depan. Strategi ini kami sebut dengan strategi PIC (productivity–innovation–cash flow). Sederhananya, dengan penyelarasan organisasi, operasional, sistem manajemen, serta SDM secara intensif, kami berharap bisa menghasilkan peningkatan efisiensi operasional melalui sinergi dan perbaikan proses kerja dan skala produksi dalam Grup Kalbe.
Secara konkret, terjemahan PIC dalam garis besarnya terbagi dalam tiga strategi.
Pertama, meningkatkan efektivitas marketing dan penjualan melalui management branding. Caranya, melalui strategi pemasaran korporat yang terintegrasi.
Kedua, memperkuat portofolio bisnis melalui inovasi model bisnis terbaru. Contohnya, di divisi obat resep, kami akan terus mencari lisensi baru, mengembangkan produk onkologi, dan memperbesar produksi obat generik.
Di produk kesehatan, kami akan berinovasi produk baru dengan produk-produk herbal. Selain itu kami juga menambah beberapa kerja sama penjualan produk alat kesehatan.
Contohnya, hari ini (Selasa, 27/3) kami meluncurkan produk insulin pump untuk pasien diabetes melitus. Sedangkan di divisi nutrisi, kami juga melakukan desain ulang (redesign) dan reposisi produk dan pengepakan.
Ketiga, dalam rangka pengembangan bisnis dan penjualan, kami akan ekspansi cabang-cabang baru, memperkuat rantai distribusi dengan membangun RDC baru di Medan, Palembang, serta Makassar.
Kami ingin masuk di kota-kota yang ada di pelosok. Apalagi ini negara yang populasinya mencapai 240 juta. Kami memperluas cabang sehingga masyarakat bisa mengakses produk-produk kami.
Di sisi likuiditas, kami konsisten menerapkan prinsip manajemen keuangan yang hati-hati. Yang jelas, Kalbe punya jumlah kas internal yang cukup untuk kebutuhan pengeluaran modal. Bila tidak mencukupi secara internal, kami akan mencari sumber pembiayaan eksternal.
Melalui pelaksanaan strategi PIC tersebut, kami berharap Kalbe dapat mencapai margin laba usaha sebesar 16% hingga 16,5% di tahun 2012.
Di sisi penjualan, kami juga optimistis penjualan Kalbe tahun ini bisa tumbuh 18%–20% dibanding tahun lalu. Dari penjualan, saya berharap dividen pay out ratio bisa menjadi 60% dari laba bersih tahun 2011 atau naik 10% dari nilai sebelumnya.
Kalbe siap dengan SJSN
Seperti kita tahu, saat ini, industri farmasi di Indonesia sudah terfragmentasi lebih dari 200 perusahaan. Pasar farmasi juga berkembang pesat seiring dengan ketatnya kompetisi bisnis farmasi yang juga harus dihadapi Kalbe.
Hingga akhir tahun 2011,Kalbe berhasil mempertahankan dominasi di pangsa pasar farmasi dengan menguasai 13% pangsa pasar di Indonesia. Kalbe sudah mampu menjangkau 70%–100% coverage untuk dokter umum, dokter spesialis, rumah sakit, apotek untuk pasar obat resep, serta pasar produk kesehatan dan nutrisi.
Di pasar nutrisi, Kalbe juga berhadapan dengan kompetisi yang tinggi produsen multinasional. Di pasar ini, Kalbe ada di peringkat keempat dengan pangsa pasar sebesar 9%.
Sembari menghadapi persaingan kompetisi di bisnis farmasi, kami juga terus memantau perkembangan pasar. Tujuannya, supaya bisa mengidentifikasi peluang untuk tumbuh dan pengembangan bisnis. Saat yang sama, kami juga meningkatkan kompetensi dan memperbaiki proses internal supaya rencana kerja berjalan sukses.
Salah satu peluang antara lain, rencana Pemerintah Indonesia mengimplementasikan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) di tahun 2014. Peluang lainnya adalah peningkatan anggaran pembelanjaan pemerintah di bidang kesehatan.
Sejalan dengan rencana pemerintah, Kalbe sudah menyiapkan diri dengan menyelesaikan pembangunan pabrik obat generik yang berkapasitas 87 juta tablet per bulan. Kami berharap, produksi ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan obat-obatan yang bernilai ekonomis.
Kami juga berinvestasi dan terus mengembangkan teknologi, dalam hal ini ilmu pengetahuan. Sebab, bisnis farmasi juga harus berdiri di atas ilmu pengetahuan. Research and development, terutama di bidang health care sangat penting untuk pengembangan produk-produk kami. Ilmu pengetahuan, kan, maju terus. Kami ingin selalu update.
Agar selalu update, kami bekerja sama dengan, baik perusahaan di dalam negeri maupun perusahaan-perusahaan luar negeri. Ini dilakukan hampir di semua divisi, tergantung tahap pengembangannya. Disesuaikan dengan kategori bisnis unit. Sesuai dengan produknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar